Peristiwa

Tiga Siswa SD Tewas Tenggelam di Galian Proyek Tol Japek II, Warga Setu Bekasi Gempar

53
×

Tiga Siswa SD Tewas Tenggelam di Galian Proyek Tol Japek II, Warga Setu Bekasi Gempar

Sebarkan artikel ini
Oplus_131072

Mata Bekasi Indonesia||Kab Bekasi – Suasana duka menyelimuti warga Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, setelah tiga anak laki-laki ditemukan tewas tenggelam di lokasi galian proyek Tol Jakarta–Cikampek (Japek) II sisi selatan, tepatnya di Kampung Burangkeng, Desa Ciledug, pada Selasa (4/11/2025) sore.

Ketiga korban diketahui bernama RF (7), RD (7), dan CBT (8). Mereka adalah siswa sekolah dasar kelas 1 dan 2 yang tinggal di Perumahan Tamansari Village serta Kampung Awirarangan, Desa Tamansari, Kecamatan Setu.

 

Menurut keterangan warga, peristiwa tragis itu bermula saat ketiganya bermain di sekitar area galian yang berisi air cukup dalam. Sekitar pukul 14.00 WIB, warga mulai panik setelah anak-anak tersebut tak kunjung terlihat.

 

“Kami dapat kabar dari anak-anak lain kalau tiga bocah hilang di sekitar galian. Warga langsung berinisiatif menyelam dan mencari mereka secara manual,” tutur Niman Heriyana (56), Ketua RT setempat.

 

Upaya pencarian berlangsung menegangkan hingga akhirnya sekitar pukul 15.20 WIB, ketiga bocah malang itu ditemukan di dasar kolam galian dalam kondisi tak bernyawa. Jenazah mereka kemudian dievakuasi ke RS Kartika Husada oleh warga dengan bantuan petugas kepolisian.

 

Kapolsek Setu, AKP Usep Aramansyah, S.H., M.H., bersama jajaran Unit Identifikasi Polres Metro Bekasi, langsung mendatangi lokasi kejadian untuk melakukan olah tempat kejadian perkara dan memeriksa sejumlah saksi.

 

“Lokasi sudah kami pasang police line. Saat ini kami masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut dan pendalaman terhadap kronologinya,” jelas AKP Usep.

 

Ketika disinggung mengenai kemungkinan adanya kelalaian pengamanan proyek, Kapolsek mengatakan hal itu masih dalam proses penyelidikan.

 

“Masih kami dalami. Fokus sementara ini adalah memastikan pemulasaraan jenazah berjalan baik,” ungkapnya.

 

Peristiwa tersebut memicu keprihatinan warga sekitar. Mereka menilai proyek besar seharusnya memiliki pengamanan ketat agar tidak mudah diakses anak-anak.

 

“Area berbahaya seperti ini mestinya dipagari dan diberi tanda peringatan. Jangan dibiarkan terbuka,” kata seorang warga dengan nada kecewa.

 

Tragedi di Setu ini menjadi peringatan keras bagi semua pihak agar lebih peduli terhadap keselamatan di sekitar proyek pembangunan.

 

Pengawasan yang ketat serta perlindungan area berisiko tinggi menjadi keharusan agar tak ada lagi korban jiwa di kemudian hari.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *